Minggu, 04 November 2012

Kewirausahaan Sosial

http://davidbornstein.files.wordpress.com


Menurut definisi, wirausaha adalah suatu kegiatan yang dapat memberikan nilai tambah terhadap produk atau jasa melalui transformasi, kreatifitas, inovasi, dan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga produk atau jasa tersebut lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pengguna produk dan jasa (Prof. Raymond Kao, Nanyang Business School, Singapore 1999). 

Kewirausahaan (entrepreneurship) berpengaruh terhadap kemajuan ekonomi bangsa. Singapura misalnya, menjadi negara yang maju karena prinsip2 entrepreneurship.

Hasilnya adalah perusahaan IT kelas dunia yang awalnya dirintis oleh wirausahawan muda. Hal yang sama dilakukan negara-negara Amerika Serikat, Taiwan, Korea yang peka terhadap pembentukan entrepreneurs. (Gatot Johanes Silalahi, MSc; Sinar Harapan, 2003).

Dua setengah dekade lalu, Bill Drayton, pendiri dan CEO Ashoka, memprakarsai konsep kewirausahaan sosial. Prinsipnya tidak berbeda dengan kewirausahaan bisnis, bedanya kewirausahaan sosial digunakan untuk memenuhi kebutuhan sosial. Bagi Drayton ada dua hal kunci dalam kewirausahaan sosial. Pertama, adanya inovasi sosial yang mampu mengubah sistem yang ada di masyarakat. Kedua, hadirnya individu bervisi, kreatif, berjiwa pengusaha (entrepreneurial), dan beretika di belakang gagasan inovatif tersebut. 

Kewirausaan sebagai nilai


Dewasa ini, dunia kewirausahaan (kewiraswastaan) tampaknya sudah mulai diminati oleh masyarakat luas. Namun, karena kurangnya informasi, banyak orang merasa masih belum jelas tentang aspek-aspek apa saja yang melingkupi dunia wiraswasta. Sebagian orang beranggapan bahwa kewiraswastaan adalah dunianya kaum pengusaha besar dan mapan, lingkungannya para direktur dan pemilik PT, CV serta berbagai bentuk perusahaan lainnya. Oleh karena itu, kewirawastaan sering dianggap sebagai wacana tentang bagaimana menjadi kaya. Sedang kekayaan itu sendiri seakan-akan merupakan simbol keberhasilan dari kewiraswastaan.

Bukan hanya sebagian masyarakat awam yang berpikir demikian, karena ternyata beberapa lembaga pembinaan kewiraswastaan juga mempunyai persepsi yang mirip dengan itu. Pada beberapa kesempatan, lembaga-lembaga tersebut menampilkan figur tokoh-tokoh sukses yang katanya berhasil menjadi kaya, dengan jalan berwiraswasta. Figur sukses itu antara lain terdiri dari tokoh-tokoh pengusaha besar yang masyarakat mengenalnya sebagai orang-orang terkemuka yang dekat dengan para pejabat pemerintahan.

Apa langkah-langkah berbisnis kuliner apabila belum mempunyai pengalaman di bidang bisnis ?


Yang pertama harus disiapkan setelah memiliki ide bisnis tentunya modal. Walaupun usaha tersebut bisa dimulai dengan modal yang relatif kecil, lebih ideal jika kamu mengetahui berapa banyak yang dibutuhkan untuk memulai usaha ini dan dari mana sumber modalnya. Apakah dari kocek pribadi, bekerjasama dengan orang lain, atau mengajukan pinjaman dari orangtua. 

Buatlah perencanaan bisnis sederhana guna memperkirakan kebutuhan produksi dan manajemen keuangan dari bisnis kamu nantinya, setidaknya untuk 1 tahun ke depan. Misalnya untuk kebutuhan peralatan dan bahan  baku, sewa tempat, gaji karyawan dan gaji kamu sendiri, transportasi, biaya overhead dan lain-lain. 

Perencanaan bisnis akan membantu kamu menentukan berapa modal yang dibutuhkan dan dari mana sumber pendanaannya. 

Selanjutnya,
buatlah strategi marketing untuk menentukan bagaimana kita akan menjual produk kita, apa nama merknya, siapa target pasarnya, dan lain-lain. Jangan lupa membuat jadwal untuk menentukan kapan mulai menerapkan strategi marketing tersebut dan memulai bisnis.  

Perhatikan juga aspek legalitasnya ya, seperti perizinan dan lisensi dari bisnis
.

Sumber :

Yasmeen/QM Planner

Prospek bisnis online shop?



Mengenai prospek bisnis online shop, ini harus dievaluasi sebagaimana kita mengevaluasi bisnis lainnya, yaitu bagaimana kondisi finansial bisnis tersebut saat ini. Apakah terdapat rencana pengembangan yang solid untuk 1 tahun, 3 tahun, sampai 5 tahun ke depan? Bagaimana kondisi pasar yang menjadi target marketnya?
Bagaima persaingan usahanya? 

Dari segi teknologi seperti internet dan smartphone, bisnis online shop memang sedang berkembang pesat. Tetapi hal ini belum tentu menjamin bahwa bisnis online kamu akan terus berkembang ke depannya, karena ada faktor-faktor lain seperti yang saya sebutkan di atas yang dapat memengaruhi perkembangan sebuah bisnis, meskipun kamu berada dalam bisnis yang tepat. 

Dalam sebuah rencana keuangan, bisnis dapat menjadi sebuah aset aktif. Tetapi idealnya, ini bukanlah satu-satunya sumber penghasilan dan pendapatan yang kita peroleh. Dari bisnis ini juga harus diperluas ke dalam investasi-investasi lainnya seperti reksadana, emas, saham, properti, dan lain-lain.

Akibat salah memilih bisnis

Bisnis akan bisa berhasil jika sesuai dengan passion dan karakter seseorang. Ada beberapa risiko jika jenis bisnis yang dipilih tidak sesuai dengan karakter utama Anda.
1. Perhatian dan kontribusi tidak maksimal karena kurang menikmati kurang dan antusias.
2. Hasil tidak maksimal walaupun sudah berusaha karena pendekatan yang digunakan tidak sesuai dengan karakter yang dimiliki dan diperlukan.
3. Stres bisa timbul jika pelaku bisnis merasa gagal atau frustrasi sehingga akhirnya bisnis tidak berlanjut.
4. Jika bisnis dilakukan tidak sendiri (bermitra dengan orang lain), maka dapat mengakibatkan kurang baiknya sinergi pengambilan keputusan.
5. Apabila Anda salah mengambil pendekatan dan keputusan, maka bisnis akan berjalan lambat, dan tidak sesuai target

Sumber :
 
Majalah Goodhousekeeping edisi Agustus 2012

Inspirasi : Mana bisnis yang terbaik ?


Seorang usahawan muda di Jakarta punya 10 juta dollar AS atau setara dengan Rp 94 miliar. Ia bingung untuk investasi. Kalau dideposito dan sebutlah ia dapat bunga 4 persen, setahun uangnya bertambah Rp 3,769 miliar atau Rp 313 juta per bulan. Cukup enak. Namun, bukan wataknya menyimpan uang di bank. Ia lebih suka bertarung di lapangan.

Kepada ayahnya yang seorang usahawan komponen otomotif, anak muda itu minta saran. Ayahnya berkata, ”Mantapkan hatimu. Masuklah ke bisnis yang engkau sukai dan benar-benar kuasai. Jangan terombang-ambing. Jangan silau kemajuan usahawan lain. Putuskan, dan lupakan!”

Anak muda ini terkesiap oleh ucapan ayahnya. Ia lalu menimbang lagi. Kalau membangun hotel bintang dua, ia bisa mendapatkan dua hotel dengan masing-masing di atas 100 kamar. Jika hotel selalu ”hampir penuh” dan dikelola baik, ia bisa berharap modal kembali kurang dari empat tahun. Ia tinggal menghitung laba.

Kalau membuka kafe waralaba asing, ia bisa memperoleh setidaknya 30 kafe kelas satu. Ia masukkan ke mal dan bayar sewa. Kalau berjalan mulus, investasi bisa balik dalam tiga tahun. Jika gagal?
Terombang-ambing, ia teringat nasihat ayahnya. Masuk ke bisnis yang ia kuasai benar. Dan bisnis itu adalah perminyakan. Selama delapan tahun terakhir, ia bekerja di sebuah perusahaan minyak bumi. Maka, ia tetapkan hati masuk ke minyak.

Berdasarkan izin legal yang ia peroleh, ia gunakan uangnya untuk ”mencari sumur minyak” di Pulau Sumatera. Menurut hitungan sederhana, kalau beruntung, pencarian pertama saja sudah bisa menemukan sumur minyak. Pada eksplorasi pertama, tidak ditemukan apa-apa. Ia tidak terpukul. Pada eksplorasi kedelapan, ditemukan sumur minyak, tetapi tidak layak. Ongkos eksplorasi malah lebih tinggi dibandingkan dengan perolehan minyak. Di sini ia berdebar. Terus atau tidak? Uangnya hanya cukup untuk dua kali lagi pencarian minyak lagi. Kalau hasilnya nihil?

Pada titik amat kritis ini, ia teringat kembali nasihat ayahnya. Putuskan dan lupakan. Ia putuskan terus mencari. Lupakan, agar ia tidak menyesal kalau seluruh hasilnya buruk. Pada pencarian kesembilan, kembali timnya gagal.

Pada kesempatan terakhir, usahawan ini bisa tersenyum. Timnya menemukan sumur minyak. Tidak besar, ”hanya” 10.500 barrel per hari. Ia sujud syukur. Kini ia bisa membangun perusahaan ritel, beberapa kafe, restoran yang laris, dan membeli saham sebuah bank swasta nasional.

Dari kutipan di atas kesimpulan yang bisa saya ambil ialah mantapkan hati kita untuk memilih mana yang terbaik untuk kita. Tentu pilihlah yang kita kuasai, yang kita bisa mengembannya dengan baik serta sesuai dengan modal kita. Putuskan secara benar-benar dengan segala kemampuan dan modal yang kita punya. Gagal ? pasti dalam berusaha tak ada yang sekejap mata dapat berhasil. Semua butuh proses. Proses yang jatuh dan bangun. Namun, semua dapat kita raih apabila kita terus maju, melupakan yang buruk dan gagal. Serta meraih kesempatan yang membawa kesuksesan. (JWP)

Referensi :

Bisnisku